
UMK News - Sagalaherang, 5 Agustus 2025 – Suasana ruang kelas V dan VI SDN 2 Sagalaherang pagi itu berbeda dari biasanya. Alih-alih memegang buku tulis, para siswa terlihat fokus menatap layar laptop, jemarinya mencoba menekan tuts satu per satu. Sesekali terdengar seruan gembira—terutama ketika mereka berhasil mengetik kalimat pertama dan menyimpannya sebagai file.
Itulah momen yang terjadi di hari kedua pelaksanaan program CERDAS (Cekatan dan Terampil Digital untuk Anak Sekolah), inisiatif mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kuningan yang mengusung misi mengenalkan teknologi sejak dini. Setelah hari pertama sukses membangkitkan antusiasme siswa, kali ini materi berlanjut ke pelatihan Microsoft Word tingkat dasar.
Di bawah bimbingan langsung mahasiswa KKN, siswa kelas V dan VI belajar mengetik biodata, mengubah jenis dan ukuran huruf, menambahkan warna, hingga menyimpan dokumen ke folder. Bagi sebagian besar dari mereka, ini adalah pengalaman pertama berinteraksi langsung dengan perangkat komputer.
“Baru pertama kali bisa bikin file sendiri!” seru salah satu siswa dengan mata berbinar.
Tak hanya membimbing, para mahasiswa KKN juga berperan sebagai motivator, meyakinkan siswa bahwa mengoperasikan komputer bukanlah hal menakutkan. Dengan pendekatan santai dan penuh humor, mereka membantu mengatasi rasa takut anak-anak terhadap teknologi. Bahkan, beberapa siswa mulai berani bereksperimen dengan fitur-fitur baru tanpa diminta.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 09.30 WIB ini menggunakan laptop bawaan mahasiswa serta perangkat sekolah. Kepala SDN 2 Sagalaherang, yang turut memantau jalannya program, mengaku terkesan.
“Pelatihan seperti ini sangat bermanfaat dan jarang didapatkan di sekolah dasar desa. Kami berharap program ini bisa berlanjut dengan materi lain seperti membuat presentasi, mengenal internet sehat, hingga desain sederhana,” ujarnya.
Program CERDAS sendiri menjadi salah satu program unggulan KKN UM Kuningan di bidang literasi digital. Dengan semangat “Belajar Teknologi Sejak Dini”, kegiatan ini membuka kesempatan bagi siswa desa untuk menguasai keterampilan digital dasar—bekal penting menghadapi dunia yang semakin berbasis teknologi.
Hari kedua ini membuktikan, teknologi tidak lagi hanya milik anak kota. Dengan ruang, bimbingan, dan kesempatan, anak-anak desa pun mampu menunjukkan bahwa mereka siap menjadi generasi cerdas dan terampil digital.